Kamis, 19 Juli 2012

Penetapan Awal Puasa 2012

Penetapan Awal Puasa 2012Menurut kalender hari pertama puasa 2012 jatuh pada tanggal 20 Juli 2012.
Namun itu hanya menurut kalender saja, karena hari pertama puasa akan ditentukan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia pada Sidang Itsbat Penetapan Awal Ramadhan, yang akan dilaksanakan pada hari Kamis, 19 juli 2012 sekitar pukul Lima sore.

Jadi kepastian kapan hari pertama kita mulai berpuasa masih menunggu keputusan dari hasil sidang Itsbat tersebut.

Namun Nahdlatul Ulama memperkirakan awal Ramadhan atau awal puasa tahun ini jatuh pada Sabtu 21 Juli. Prediksi bahwa 1 Ramadhan 1433 Hijriah jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012 itu, juga tertuang dalam Almanak PBNU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah.

Pemerintah sendiri diprediksikan akan mengikuti prediksi NU, yaitu 21 Juli mengingat patokan dalam sidang isbat adalah bulan sudah terlihat 2 derajat atau lebih
Sedangkan Muhammadiyah sudah memutuskan kalau awal puasa jatuh pada tanggal 20 Juli 2012.

Bagi anda yang membutuhkan Jadwal Puasa 2012 M / 1433 H yang resmi dari Kementrian Agama RI, jangan khawatir karena pihak Kemenag RI sudah mengeluarkan jadwal puasa resmi untuk semua propinsi.

Untuk mengunduh A.K.A download jadwal puasa 2012 ini silahkan anda ikuti Link Ini dan untuk daerah Jawa Barat dan sekitarnya Download di sini.
Jadwal Imsakiyah Puasa 2011 M / Ramadhan 1433 H ini resmi didapat dari website Kemenag yang beralamat di http://bimasislam.kemenag.go.id/.

Akhir kata, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Untuk Semua Pengunjung Blog Neo Tutorial.

0 comments:

Post a Comment


Hide Sidebar
 



﴿ حقيقة الجن وتأثيرهم وعلاج ذلك ﴾

]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي


Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
-rahimahullah-


Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad



2010 - 1431



﴿ حقيقة الجن وتأثيرهم وعلاج ذلك ﴾
« باللغة الإندونيسية »


الشيخ  محمد بن صالح العثيمين
رحمه الله

ترجمة: محمد إقبال أحمد غزالي
مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو




2010 - 1431


بسم الله الرحمن الرحيم

Hakikat Jin, Pengaruh Dan Cara Pengobatan  Kesurupan


Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
rahimahullah
          Pertanyaan: Apakah hakikat jin itu? Apakah mereka bisa memberi pengaruh? Apakah obatnya?
          Jawaban: Adapun hakikat jin, hanya Allah Ta'ala yang mengetahuinya, namun kita mengetahui bahwa jin memiliki bentuk tubuh sebenarnya. Mereka diciptakan dari api. Mereka makan, minum, dan kawin serta memiliki keturunan, sebagaimana firman Allah swt:
أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ
Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu. (QS. al-Kahf:50)
Mereka diberi taklif (tugas) untuk beribadah. Nabi saw diutus kepada mereka, mereka hadir dan mendengarkan al-Qur`an, sebagaimana firman Allah swt:
قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا .  يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَئَامَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا
Katakanlah (hai Muhammad):"Telah diwahyukan kepadaku bahwasannya: sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan, * (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami, (QS. al-Jinn:1-2)

Sebagaimana firman Allah swt:
وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ . قَالُوا يَاقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِّمَابَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata:"Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)".Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. * Mereka berkata:"Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS. al-Ahqaf:29-30)
Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda kepada jin yang datang kepada beliau dan meminta bekal:
لَكُمْ كُلُّ عَظْمٍ ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ يَقَعُ فِى أَيْدِيْكُمْ أَوْفَرَ مَا يَكُوْنُ لَحْمًا
"Untukmu setiap tulang yang disebut nama Allah swt atasnya yang terjatuh di tanganmu, lebih beruntung yang ada daging."[1]
Mereka –maksud saya bangsa jin- makan bersama manusia apabila ia makan dan tidak menyebut nama Allah Ta'ala terhadap makanannya. Karena alasan inilah membaca bismillah saat makan hukumnya wajib, demikian pula minum sebagaimana Nabi saw menyuruh hal itu.[2]
          Atas dasar itu, sesungguhnya jin itu benar-benar ada dan merupakan kenyataan. Mengingkari keberadaan mereka berarti mendustakan al-Qur`an dan kufur kepada Allah swt. Mereka diperintah dan dilarang, dan yang kafir masuk neraka, sebagaimana firman Allah swt:
قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا
Allah berfirman:"Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (kedalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya);. (QS.al-A'raaf:38)
Dan yang beriman dari mereka masuk ke dalam surga, firman Allah swt:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ {46} فَبِأَيِّ ءَالآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ {47} ذَوَاتَآ أَفْنَانٍ {48} فَبِأَيِّ ءَالآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ {49}
Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga. * Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan * kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. * Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan (QS. ar-Rahman:46-49)
Khithab (pembicaraan) ditujukan kepada bangsa jin dan manusia. berdasarkan karena firman Allah swt:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ ءَايَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini Mereka berkata:"Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-An'am:130)
Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan bahwa mereka adalah mukallaf: masuk surga bila beriman dan masuk neraka bila tidak beriman.
          Adapun pengaruh mereka terhadap manusia, maka itupun bisa terjadi pula. Mereka bisa memberi pengaruh kepada manusia: bisa jadi masuk ke dalam tubuh manusia, lalu merasuk dan menyakiti. Bisa jadi memberi pengaruh kepadanya dengan cara menakut-nakuti dan semisal yang demikian itu.
          Dan mengobati dari pengaruh mereka adalah dengan wirid yang disyari'atkan: seperti membaca ayat Kursi (al-Baqarah: 255). Maka sesungguhnya 'Barangsiapa yang membaca ayat Kursi di malam hari, niscaya ia mendapat pemeliharaan Allah swt dan syetan tidak bisa mendekatinya hingga pagi hari."[3]
Syaikh Ibn al-Utsaimin –Fatawa Pengobatan dengan al-Qur`an dan sunnah – ruqyah dan yang terkait hal 67-69.


295. Hukum Masuknya Jin Ke Dalam Tubuh Manusia
          Pertanyaan: Apakah ada dalilnya bahwa jin bisa masuk ke dalam tubuh manusia?
          Jawaban: ya, ada dalilnya dari al-Qur`an dan sunnah yang menunjukkan bahwa jin bisa merasuki manusia. Dari al-Qur`an, firman Allah swt:
الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. (QS. al-Baqarah:275)
Ibnu Katsir rahimahullah[4] berkata: Mereka bangkit dari kubur di hari kiamat seperti orang gila saat gilanya dan syetan merasukinya.
          Adapun dari sunnah, sabda Rasulullah saw:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
 'Sesungguhnya syetan mengalir dari anak cucu Adam (manusia) seperti aliran darah.'[5]
          Al-Asy'ari berkata dalam 'Maqalatu Ahlis Sunnah wal Jama'ah'[6]: 'Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah berkata, 'Sesungguhnya jin bisa masuk di tubuh orang yang kerasukan', dan ia mengambil dalil dengan ayat di atas.
          Abdullah bin Imam Ahmad berkata: 'Aku berkata kepada bapakku, ''Sesungguhnya suatu kaum menyangka bahwa jin tidak bisa masuk ke dalam tubuh manusia.' Imam Ahmad menjawab, 'Wahai anakku, mereka bohong, ia ini berbicara di atas lisannya.'[7]
          Dan disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan imam Ahmad dan al-Baihaqi, bahwa seorang anak laki-laki yang gila dibawa (kepada Nabi saw), lalu Nabi saw berkata:
اخْرُجْ عَدُوَّ اللهِ, أَنَا رَسُوْلُ اللهِ
'Keluarlah wahai musuh Allah, Aku adalah Rasulullah (utusan Allah swt).'[8] Maka sembuhlah anak itu.
          Maka engkau melihat bahwa dalam masalah ini ada dalil dari al-Qur`an dan dua dalil dari sunnah, dan sesungguhnya ia adalah pendapat Ahlus Sunnah dan para imam salaf, sementara realita membuktikan hal itu. Kendati demikian, kita tidak mengingkari bahwa gila disebabkan yang lain: berupa ketegangan urat saraf dan gangguan otak serta penyebab lainnya.
Syaikh Ibn al-Utsaimin – al-Fatawa Ijtima'iyah 4/67-68.


[1] Muslim 450
[2] Sebagaimana sabda Nabi saw kepada Umar bin Abu Salamah rad: 'Wahai ghulam, bacalah bismillah...'HR. al-Bukhari 5376 dan Muslim 2022.
[3] Al-Bukhari 2311, 2375
[4]  Ibnu Katsir 1/327
[5] Al-Bukhari 7171 dan Muslim 2175.
[6]  Yang dikenal dengan nama 'Maqalatuh islamiyyin'.
[7]  Lihat: Majmu' Fatawa, karya Ibnu Taimiyah 19/12.
[8]  Ahmad 4/171-172, ath-Thabrani dalam al-Kabir 22/264 (679), al-Hakim 2/617-618 (4232) dan ia berkata: Shahih isnad dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat: Majma' az-Zawaid 9/6.
tang Hari Ini - last update : 19 Juli 2012   


Aries
21 Mar - 20 Apr

Level Bintang Hari ini
[]
 
Libra
24 Sep - 23 Okt

Level Bintang Hari ini
[]
 
Taurus
21 Apr - 21 Mei

Level Bintang Hari ini
[]
 
Scorpio
24 Okt - 22 Nov

Level Bintang Hari ini
[]  
Gemini
22 Mei - 21 Jun

Level Bintang Hari ini
[]
Sagittarius
23 Nov - 21 Des

Level Bintang Hari ini
[]  
Cancer
22 Jun - 22 Jul

Level Bintang Hari ini
[]
 
Capricorn
22 Des - 20 Jan

Level Bintang Hari ini
[]
 
Leo
23 Jul - 22 Agt

Level Bintang Hari ini
[]
 
Aquarius
21 Jan - 19 Feb

Level Bintang Hari ini
[]
 
Virgo
22 Agt - 22 Sep

Level Bintang Hari ini
[]

 
Pisces
20 Feb - 20 Mar

Level Bintang Hari ini
[]
 
Ramalan Bintang Hari Ini - last update : 19 Juli 2012   
Jadwal Puasa Ramadhan 2012 - Sebentar lagi umat islam di seluruh dunia akan melaksanakan ibadah puasa ramadhan 2012, dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadhan 2012 saya akan share jadwal puasa 2012 terbaru terupdate terpopuler yang bisa anda download untuk mengetahui jadwal imsak serta jadwal waktu sholat lima waktu.
Untuk mengetahui tepatnya pada saat berbuka dan waktu pada saat imsak ada baiknya anda melihat Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 Hijriah. Sesuai dengan kotanya masing-masing.
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Jakarta
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Surabaya
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Yogyakarta
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Bandung
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Jambi
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Batam
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Pontianak
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Samarinda
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Lampung
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Purwokerto
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Surakarta
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Medan
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Palu
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Ujung Pandang
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Malang
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Semarang
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Cirebon
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Bengkulu
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Palembang
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Padang
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Pekan Baru
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Bali
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Maluku
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Mataram
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Pangkal Pinang
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Jawa Barat
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Banten
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Manado
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Gorontalo
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Aceh
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Suka Bumi
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Banjarmasin
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Balik Papan
- Jadwal Puasa Ramadhan 2012 1433 H untuk Kota Palangkaraya

Berikut Jadwal Puasa Ramadhan 2012:



Catatan: id=122 adl. Wilayah Jakarta Pusat, untuk wilayah lain silahkan id diganti (kode terlihat address bar)
Cara Download Jadwal Puasa Ramadhan 2012:
- Pilih Kota Lokasi Anda
- Kemudian geser scroll ke bawah
- Pilih menu cetak ke Printer.
- Maka secara otomatis akan langsung di download dan di print Jadwal Puasa Ramadhan 2012.
- Semoga Bermanfaat ^_^.
Keterangan:

  1. Jadwal Puasa Ramadhan 2012 meliputi seluruh indonesia, pilih kota untuk menampilkan jadwal ramadhan 2012 secara regional.
  2. Awal Ramadhan dan Syawal 1433 H mengikuti Keputusan Pemerintah RI.
  3. Jadwal berlaku untuk wilayah kota ybs. dengan radius maksimal +/- 25 km.
  4. Jadwal sudah ditambah waktu ihtiyati (pengaman) sebesar +/- 2 menit.
  5. Jadwal berdasarkan Kriteria Jadwal Shalat Kementerian Agama RI.
KRITERIA JADWAL SHALAT KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
  1. Imsak 10 menit sebelum waktu Subuh.
  2. Subuh saat Matahari berada pada sudut -20° di bawah horizon Timur ditambah ihtiyati 2 menit.
  3. Syuruq / Terbit saat Matahari terbit dikurangi ihtiyati 2 menit.
  4. Dhuha saat Matahari berada pada sudut 4,5° di atas horizon setelah terbit ditambah ihtiyati 2 menit.
  5. Zuhur saat Matahari melintas Meridian (zawal/istiwa/noon) ditambah ihtiyati 2 menit.
  6. Ashar saat panjang bayangan Matahari = panjang benda + panjang bayangan benda waktu Zuhur ditambah ihtiyati 2 menit.
  7. Maghrib saat Matahari terbenam ditambah ihtiyati 2 menit.
  8. Isya' saat Matahari berada pada sudut -18° di bawah horizon Barat ditambah ihtiyati 2 menit
Saya berharap Jadwal Puasa 2012 ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih kpd Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak - Rukyatul Hilal Indonesia yang telah mempublikasikan Jadwal Ramadhan 2012 lengkap dengan jadwal sholat, jadwal imsakiyah, dan jadwal buka puasa 2012.

Minggu, 29 April 2012

Memaafkan itu lebih baik… (agar mudah memaafkan orang lain)

Bismillahirrahmanirrahim
“Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu lebih baik..”
SUATU hari ‘Aisyah yang tengah duduk santai bersama suaminya, Rasulullah saw, dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta izin masuk ke rumahnya dengan ucapan Assamu’alaikum (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapanAssamu’alaikum kepada Rasulullah.
Tak lama kemudian datang lagi Yahudi yang lain dengan perbuatan yang sama. Ia masuk dan mengucapkan Assamu’alaikum. Jelas sekali bahwa mereka datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah. Menyaksikan pola tingkah mereka, Aisyah gemas dan berteriak: Kalianlah yang celaka!
Rasulullah tidak menyukai reaksi keras istrinya. Beliau menegur, Hai ˜Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat. Berlemah lembut atas semua yang telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. Kenapa engkau harus marah dan berang?”
“Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?”
“Ya, aku telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa’alaikum (juga atas kalian), dan itu sudah cukup.”
Manusia agung, Muhammad saw ini lagi-lagi memberikan pelajaran yag sangat berharga kepada istrinya, yang tentu saja berlaku pula bagi segenap kaum muslimin. Betapa beliau telah menunjukkan suatu kepribadian yang amat matang dan sangat dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan. Begitu kokoh pemahaman dirinya, sehingga tidak mudah terpancing amarahnya. Suatu pengendalian emosi yang luar biasa.
Sebagai istri, ‘Aisyah tentu tidak rela manakala suami tercintanya menerima ucapan keji dan busuk, sebagaimana yang diucapkan oleh orang Yahudi. Darahnya segera mendidih, dan tanpa kendali keluarlah dari kedua bibirnya kata-kata keji pula sebagai balasan atas mereka.
Apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah sebenarnya dalam batas kewajaran. Ia tidak berlebihan dalam mengumpat dan mengata-katai mereka. Ia hanya membalas secara setimpal apa yang mereka ucapkan. Akan tetapi Rasulullah belum berkenan terhadap ucapan istrinya. Beliau ingin agar ‘Aisyah mengganti ucapannya dengan satu kata yang lugas tapi tetap sopan. Rasulullah berkata, Wa’alaikum, itu sudah cukup.’
Urusan salam ini nampaknya sederhana, tapi dalam Islam mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Salam merupakan pembuka kata dalam setiap perjumpaan, baik perjumpaan di udara maupun di darat (tatap muka). Salam bahkan menunjukkan kepribadian seseorang.
Orang yang secara tiba-tiba berkata-kata tanpa didahului oleh salam bisa dianggap kurang etis atau tidak sopan. Apalagi jika akan memasuki rumah orang. Bahkan nada suara, ekspresi wajah, dan gaya penampilan ketika mengucapkan salam menjadi perhatian yang sangat besar.
Lebih dari itu, orang bisa langsung mengetahui identitas agama seseorang dari salamnya. Jika ada penyiar televisi atau narasumber yang diwawancarai mengucapkan assalamualaikum, segera kita ketahui bahwa orang tersebut beragama Islam. Demikian juga bila menggunakan salam yang lain.
Masalahnya kemudian, bagaimana jika Assamu’alaikum sudah menjadi tradisi nasional, sehingga warga non-muslim juga mengucapkan hal yang sama? Banyak di antara kita yang kelagapan menerima ucapan Assamu’alaikum dari kawan atau kenalan yang nyata-nyata bukan muslim. Ada yang menjawab dengan wa’alaikum salam, tapi ada yang justru tidak menjawab sama sekali.
Urusan salam ternyata telah diajarkan oleh Islam sangat rinci sekali. Termasuk jika kita mendapatkan ucapan Assamu’alaikum dari orang non-muslim. Dalam hal ini kita cukup menjawab mereka dengan ucapan: wa’alaikum. Kenapa demikian?
Ada dua alasan. Yang pertama, menjaga hubungan baik dan kesopanan. Dengan ucapan waalaikum mereka merasa mendapatkan respon baik dari kita. Mereka tidak merasa diacuhkan. Sebaliknya mereka merasa dihormati dan diterima.
Alasan kedua, dengan hanya menjawab wa’alaikum, maka berarti kita tidak mendoakan kepada mereka. Sebab doa seorang muslim kepada non-muslim itu tidak diterima. Kecuali mendoakan agar mereka mengikuti jalan kebenaran, yaitu Islam. Dengan Islam mudah-mudahan mereka selamat di dunia dan di akhirat.
Nabi Ibrahim adalah seorang anak yang sangat mencintai dan menghormati ayahnya. Itulah sebabnya ia berdoa agar Allah menyelamatkan bapaknya. Akan tetapi perbuatan Ibrahim itu mendapat teguran dari Allah, karena bapaknya masih musyrik, menyembah berhala.
Demikian juga Nabi Muhammad saw, beliau sangat mencintai Abu Thalib, pamannya. Lewat perlindungan pamannya inilah jiwanya selamat dan misinya berhasil. Tapi karena sampai akhir hayatnya Abu Thalib belum juga menyatakan beriman kepada Allah, maka Muhammad saw terhalang mendoakannya.
Inilah adat kesopanan yang diajarkan Islam. Kepada orang yang tidak seagama, kita tetap harus berbuat baik. Apalagi jika orang tersebut telah berjasa kepada kita. Kepada orang tua yang non-muslim misalnya, kita harus berbuat baik. Termasuk jika mereka memerintahkan berbuat maksiat, kita harus tetap berbuat baik kepada mereka, walaupun perintahnya tidak kita jalankan.
Demikian juga kepada orang yang jelas-jelas menunjukkan permusuhannya, kita tidak boleh terpancing berbuat keji dan kotor. Sebisa mungkin kita mengendalikan diri. Jika kita berniat membalasnya, maka balasan itu hendaknya setimpal, tidak boleh berlebihan. Pilihlah kata-kata yang tegas, lugas, tapi tetap sopan.
Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu lebih baik. Jika benar-benar kita ingin membalas, balasan itu hendaknya tidak lebih dari yang ia terima. Berlebih-lebihan dalam pembalasan merupakan tindak kezhaliman. Allah berfirman:
“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangan terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. al-Baqarah: 194)
Tidak seperti agama lain yang mengajarkan bahwa bila pipi kananmu dipukul berikan pipi kirimu. Bila jubahmu diminta berikan bajumu. Ajaran ini justru tidak manusiawi, sebab sangat memberatkan mereka yang dizhalimi. Islam mengajarkan agar seseorang bisa memberi balasan setimpal dengan apa yang telah diterimanya. Meskipun demikian, memaafkan itu jauh lebih baik.
Seperti dalam kasus ‘Aisyah di atas, jelas bahwa ‘Aisyah sangat bisa membalas ucapan keji orang Yahudi. Apalagi saat itu Rasulullah bukan saja sebagai pemimpin ruhani, tapi sekaligus merupakan kepala negara yang berkuasa. Apa susahnya membalas orang yang menghinanya, sedang menjebloskan mereka ke tahanan saja itu merupakan haknya. Tapi Rasulullah sebagai manusia agung memilih untuk memberi balasan yang secukupnya.
Keperkasaan seseorang tidak bisa diukur dari kekuatan fisiknya. Orang yang jantan, bukan mereka yang ahli bertinju, bukan mereka yang di setiap pertandingan tak terkalahkan. Menurut determinasi Islam orang yang kuat adalah mereka yang dikala marah bisa menahan dirinya. Rasulullah bersabda, “Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menahan marah bukan pekerjaan mudah. Menuntut perjuangan yang amat berat lagi susah, apalagi bagi mereka yang sedang mempunyai kemampuan dan kekuasaan untuk meluapkan kemarahannya. Akan tetapi justru di sinilah seseorang itu dinilai, apakah layak disebut ksatria atau tidak. Seorang ksatria adalah yang mampu menahan marahnya, akan tetapi jika kezhaliman itu sudah melampaui batas, ia mampu membalasnya, setimpal dengan perlakuan orang tersebut. Orang yang seperti ini akan mendapat jaminan dari Allah berupa kecintaan yang mendalam.
Rasulullah bersabda:
“Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya.” (HR. Hakim).
Dalam menghadapi situasi yang cenderung memancing emosi, manusia dapat dibedakan dalam tiga tipe. Pertama, orang yang tidak merasa marah padahal penyebabnya ada. Kedua, orang yang merasa marah tetapi mampu menahan amarahnya dan mau memaafkan. Sedang ketiga, mereka yang merasa marah, mampu menahan marah, tapi tidak bisa memaafkannya. Dari ketiga kategori ini tentu saja golongan pertama yang lebih utama. Mereka disebut telah memiliki hilm, sifat sabar yang sangat besar. Sabar di atas sabar. Sifat ini telah dimiliki Rasulullah saw, dan telah dibuktikan dalam berbagai peristiwa.
Tentang sifat hilm ini Rasulullah bersabda, “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, “Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.” (HR. Thabrani).
wallahua’lam