Memaafkan itu lebih baik… (agar mudah memaafkan orang lain)
29 May 2012
Bismillahirrahmanirrahim
“Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu lebih baik..”
SUATU hari ‘Aisyah yang tengah duduk santai bersama suaminya,
Rasulullah saw, dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta
izin masuk ke rumahnya dengan ucapan
Assamu’alaikum (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapanAssamu’alaikum kepada Rasulullah.
Tak lama kemudian datang lagi Yahudi yang lain dengan perbuatan yang
sama. Ia masuk dan mengucapkan Assamu’alaikum. Jelas sekali bahwa mereka
datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah.
Menyaksikan pola tingkah mereka, Aisyah gemas dan berteriak: Kalianlah
yang celaka!
Rasulullah tidak menyukai reaksi keras istrinya. Beliau menegur, Hai
˜Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah
menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk
sesuatu yang paling buruk dan jahat. Berlemah lembut atas semua yang
telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas
segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. Kenapa
engkau harus marah dan berang?”
“Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?”
“Ya, aku telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa’alaikum (juga atas kalian), dan itu sudah cukup.”
Manusia agung, Muhammad saw ini lagi-lagi memberikan pelajaran yag
sangat berharga kepada istrinya, yang tentu saja berlaku pula bagi
segenap kaum muslimin. Betapa beliau telah menunjukkan suatu kepribadian
yang amat matang dan sangat dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan.
Begitu kokoh pemahaman dirinya, sehingga tidak mudah terpancing
amarahnya. Suatu pengendalian emosi yang luar biasa.
Sebagai istri, ‘Aisyah tentu tidak rela manakala suami tercintanya
menerima ucapan keji dan busuk, sebagaimana yang diucapkan oleh orang
Yahudi. Darahnya segera mendidih, dan tanpa kendali keluarlah dari kedua
bibirnya kata-kata keji pula sebagai balasan atas mereka.
Apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah sebenarnya dalam batas kewajaran. Ia
tidak berlebihan dalam mengumpat dan mengata-katai mereka. Ia hanya
membalas secara setimpal apa yang mereka ucapkan. Akan tetapi Rasulullah
belum berkenan terhadap ucapan istrinya. Beliau ingin agar ‘Aisyah
mengganti ucapannya dengan satu kata yang lugas tapi tetap sopan.
Rasulullah berkata, Wa’alaikum, itu sudah cukup.’
Urusan salam ini nampaknya sederhana, tapi dalam Islam mendapatkan
porsi perhatian yang cukup besar. Salam merupakan pembuka kata dalam
setiap perjumpaan, baik perjumpaan di udara maupun di darat (tatap
muka). Salam bahkan menunjukkan kepribadian seseorang.
Orang yang secara tiba-tiba berkata-kata tanpa didahului oleh salam
bisa dianggap kurang etis atau tidak sopan. Apalagi jika akan memasuki
rumah orang. Bahkan nada suara, ekspresi wajah, dan gaya penampilan
ketika mengucapkan salam menjadi perhatian yang sangat besar.
Lebih dari itu, orang bisa langsung mengetahui identitas agama
seseorang dari salamnya. Jika ada penyiar televisi atau narasumber yang
diwawancarai mengucapkan assalamualaikum, segera kita ketahui bahwa
orang tersebut beragama Islam. Demikian juga bila menggunakan salam yang
lain.
Masalahnya kemudian, bagaimana jika Assamu’alaikum sudah menjadi
tradisi nasional, sehingga warga non-muslim juga mengucapkan hal yang
sama? Banyak di antara kita yang kelagapan menerima ucapan
Assamu’alaikum dari kawan atau kenalan yang nyata-nyata bukan muslim.
Ada yang menjawab dengan wa’alaikum salam, tapi ada yang justru tidak
menjawab sama sekali.
Urusan salam ternyata telah diajarkan oleh Islam sangat rinci sekali.
Termasuk jika kita mendapatkan ucapan Assamu’alaikum dari orang
non-muslim. Dalam hal ini kita cukup menjawab mereka dengan ucapan:
wa’alaikum. Kenapa demikian?
Ada dua alasan. Yang pertama, menjaga hubungan baik dan kesopanan.
Dengan ucapan waalaikum mereka merasa mendapatkan respon baik dari kita.
Mereka tidak merasa diacuhkan. Sebaliknya mereka merasa dihormati dan
diterima.
Alasan kedua, dengan hanya menjawab wa’alaikum, maka berarti kita
tidak mendoakan kepada mereka. Sebab doa seorang muslim kepada
non-muslim itu tidak diterima. Kecuali mendoakan agar mereka mengikuti
jalan kebenaran, yaitu Islam. Dengan Islam mudah-mudahan mereka selamat
di dunia dan di akhirat.
Nabi Ibrahim adalah seorang anak yang sangat mencintai dan
menghormati ayahnya. Itulah sebabnya ia berdoa agar Allah menyelamatkan
bapaknya. Akan tetapi perbuatan Ibrahim itu mendapat teguran dari Allah,
karena bapaknya masih musyrik, menyembah berhala.
Demikian juga Nabi Muhammad saw, beliau sangat mencintai Abu Thalib,
pamannya. Lewat perlindungan pamannya inilah jiwanya selamat dan misinya
berhasil. Tapi karena sampai akhir hayatnya Abu Thalib belum juga
menyatakan beriman kepada Allah, maka Muhammad saw terhalang
mendoakannya.
Inilah adat kesopanan yang diajarkan Islam. Kepada orang yang tidak
seagama, kita tetap harus berbuat baik. Apalagi jika orang tersebut
telah berjasa kepada kita. Kepada orang tua yang non-muslim misalnya,
kita harus berbuat baik. Termasuk jika mereka memerintahkan berbuat
maksiat, kita harus tetap berbuat baik kepada mereka, walaupun
perintahnya tidak kita jalankan.
Demikian juga kepada orang yang jelas-jelas menunjukkan
permusuhannya, kita tidak boleh terpancing berbuat keji dan kotor.
Sebisa mungkin kita mengendalikan diri. Jika kita berniat membalasnya,
maka balasan itu hendaknya setimpal, tidak boleh berlebihan. Pilihlah
kata-kata yang tegas, lugas, tapi tetap sopan.
Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi
memaafkan itu lebih baik. Jika benar-benar kita ingin membalas, balasan
itu hendaknya tidak lebih dari yang ia terima. Berlebih-lebihan dalam
pembalasan merupakan tindak kezhaliman. Allah berfirman:
“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut
dihormati, berlaku hukum qishas. Oleh sebab itu barang siapa yang
menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangan terhadapmu.
Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang
yang bertaqwa.” (QS. al-Baqarah: 194)
Tidak seperti agama lain yang mengajarkan bahwa bila pipi kananmu
dipukul berikan pipi kirimu. Bila jubahmu diminta berikan bajumu. Ajaran
ini justru tidak manusiawi, sebab sangat memberatkan mereka yang
dizhalimi. Islam mengajarkan agar seseorang bisa memberi balasan
setimpal dengan apa yang telah diterimanya. Meskipun demikian, memaafkan
itu jauh lebih baik.
Seperti dalam kasus ‘Aisyah di atas, jelas bahwa ‘Aisyah sangat bisa
membalas ucapan keji orang Yahudi. Apalagi saat itu Rasulullah bukan
saja sebagai pemimpin ruhani, tapi sekaligus merupakan kepala negara
yang berkuasa. Apa susahnya membalas orang yang menghinanya, sedang
menjebloskan mereka ke tahanan saja itu merupakan haknya. Tapi
Rasulullah sebagai manusia agung memilih untuk memberi balasan yang
secukupnya.
Keperkasaan seseorang tidak bisa diukur dari kekuatan fisiknya. Orang
yang jantan, bukan mereka yang ahli bertinju, bukan mereka yang di
setiap pertandingan tak terkalahkan. Menurut determinasi Islam orang
yang kuat adalah mereka yang dikala marah bisa menahan dirinya.
Rasulullah bersabda, “Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat
meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat
menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menahan marah bukan pekerjaan mudah. Menuntut perjuangan yang amat
berat lagi susah, apalagi bagi mereka yang sedang mempunyai kemampuan
dan kekuasaan untuk meluapkan kemarahannya. Akan tetapi justru di
sinilah seseorang itu dinilai, apakah layak disebut ksatria atau tidak.
Seorang ksatria adalah yang mampu menahan marahnya, akan tetapi jika
kezhaliman itu sudah melampaui batas, ia mampu membalasnya, setimpal
dengan perlakuan orang tersebut. Orang yang seperti ini akan mendapat
jaminan dari Allah berupa kecintaan yang mendalam.
Rasulullah bersabda:
“Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan
pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan
senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan
cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat
nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi
mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila
sedang marah, dia menghentikan marahnya.” (HR. Hakim).
Dalam menghadapi situasi yang cenderung memancing emosi, manusia
dapat dibedakan dalam tiga tipe. Pertama, orang yang tidak merasa marah
padahal penyebabnya ada. Kedua, orang yang merasa marah tetapi mampu
menahan amarahnya dan mau memaafkan. Sedang ketiga, mereka yang merasa
marah, mampu menahan marah, tapi tidak bisa memaafkannya. Dari ketiga
kategori ini tentu saja golongan pertama yang lebih utama. Mereka
disebut telah memiliki hilm, sifat sabar yang sangat besar. Sabar di
atas sabar. Sifat ini telah dimiliki Rasulullah saw, dan telah
dibuktikan dalam berbagai peristiwa.
Tentang sifat hilm ini Rasulullah bersabda, “Maukah aku ceritakan
kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan
meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda,
“Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan
orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang
memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim
denganmu.” (HR. Thabrani).
wallahua’lam